Kliping Koran : Kawula dan Raja
Posted by
share kliping
on Thursday, September 22, 2011
/
Labels:
artikel,
dbc network,
kawula,
kliping,
kliping koran,
mohammad sobary,
raja,
sosial budaya
/
Comments: (0)
kode kliping : E018
jenis kliping : artikel kliping sosial budaya
judul : kawula dan raja
penulis : mohammad sobary
sumber : kompas
tanggal terbit : 25 juni 2006
ringkasan isi kliping :
artikel ini memaparkan tentang berkumpulnya raja dan para kawulanya ditengah reruntuhan wanakrama. raja, perangkat keraton, dan para kawula bertemu bukan untuk sesambat atau mengeluh tanda tak berdaya, melainkan untuk bangkit dari reruntuhan. apa yang hilang itu asalnya dulu tidak ada. maka, apa yang tak ada sudah kembali ke tak ada sesuai sunatullah. tetapi, karena sejarah harus berlanjut dan tuhan masih menyerahkan keberlanjutan hidup ini di tangan manusia, maka muncullah tekad bersama : tekad kawula dan raja yang hari itu secara simbolis maupun riil menyatu sukma, menegakkan kembali hidup dari awal.
kemudian dituliskan dalam artikel ini bahwa kawula dan raja---seperti ucapan penyair kita, goenawan mohamad---ibarat kata “bersiap untuk kecewa, dan bersedih tanpa kata-kata” karena sedih apalah gunanya. hidup harus diisi dengan kerja. bersihkan puing-puing, singsingkan lengan baju. dan pelan-pelan kita bangkit bersama. dituliskan juga dalam artikel ini bahwa gempa ya gempa. derita yang derita. ini kewajaran hidup. suka duka pakaian jiwa. semua ada faedahnya. kebudayaan jawa menyimpan banyak energi untuk bertahan dalam derita. gempa membikin kita berpikir lebih jauh akan makna hidup dan penyerahan, atau hidup dan kegigihan. kita harus menyerah seperti apa dan harus gigih seperti apa.
-----------------------------------------------------------------
Bisnis Online Murah & Mudah
Cepat Mendatangkan Duit Berlimpah
Dapatkan Info Lengkapnya dBC Network
Sangat cocok utk Semua Kalangan
www.dbc-network.com
-----------------------------------------------------------------
Kliping Koran : Kompas
Posted by
share kliping
/
Labels:
artikel,
dbc network,
kepemimpinan kharismatik,
kliping,
kliping koran,
kompas,
sosial budaya
/
Comments: (0)
kode kliping : E017
jenis kliping : artikel kliping sosial budaya
judul : kompas
penulis : mohammad sobary
sumber : kompas
tanggal terbit : 3 juli 2005
ringkasan isi kliping :
artikel ini memaparkan tentang kompas yang dibutuhkan setiap orang sebagai pedoman atau penunjuk arah jalan hidup. dipaparkan dalam artikel ini bahwa hidup memerlukan ketegasan mutlak : yang hak itu hak, yang batil itu batil. tawar menawar antara keduanya tak ada. di wilayah ini kompas menjadi dirinya sendiri. ia memberi pedoman arah kemana hidup harus dituju. kita memasuki abad ketidakjeasan. abad yang dalam kesadaran kosmologi-spirituil orang jawa disebut “jaman kalatida” (suatu zaman dimana manusia-manusianya diliputi rasa “tida-tida”, ragu, gamang, tak yakin apa yang wajib dilakukan, tak jelas tolak ukur tentang benar dan salah).
kemudian dituliskan dalam artikel ini bahwa hidup membutuhkan kompas. bahkan kompas sendiri tak terkecuali. tak ada organisasi yang berani merasa jemawa, meremehkan artidukungan, sambil mengabaikan potensi rongrongan yang mungkin datang dari luar. tapi bisa juga dibawah ketiaknya sendiri musuh-musuh membangun serangan fatal. sering kita dibuat terlena menata urusan kecil di dalam sampai lupa atau tidak tahu, di luar sana ada perkara penting dan besar. musuh selalu pintar. bila tak mungkin dirobohkan bila tak mungkin dirobohkan total, minimal kita diajak sibuk mengerdilkan diri supaya tak semakin besar. usia 40 tahun belum tua, belum amat stabil, belum apa-apa. organisasi dengan kepemimpinan kharismatik yang luhur, romantik dan berwibawa, harus disyukuri karena agak langka, di jaman macam ini masih ada pemimpin berwibawa.
-----------------------------------------------------------------
Bisnis Online Murah & Mudah
Cepat Mendatangkan Duit Berlimpah
Dapatkan Info Lengkapnya dBC Network
Sangat cocok utk Semua Kalangan
www.dbc-network.com
-----------------------------------------------------------------
Kliping Koran : Perempuan
Posted by
share kliping
/
Labels:
artikel,
dbc network,
kliping,
kliping koran,
mohammad sobary,
perempuan,
sosial budaya
/
Comments: (0)
kode kliping : E016
jenis kliping : artikel kliping sosial budaya
judul : perempuan
penulis : mohammad sobary
sumber : kompas
tanggal terbit : 16 maret 2008
ringkasan isi kliping :
artikel ini memaparkan tentang cara kita memahami perempuan. dipaparkan dalam artikel ini bahwa umumnya pemahaman kita mengenai perempuan terbatas, tak lepas dari sosok ibu. maka, perempuan harus ditanya dengan kata “siapa”, karena kita tahu perempuan itu sosok pribadi, “wanita”, dan tidak boleh ditanya dengan “apa” karena ia bukan “benda” meskipun kaidah tata bahasa indonesia menganggapnya kata benda. berabad-abad lalu kita mengenal hanya satu pemahaman : perempuan sebagai konsep biologis. tapi sekarang tidak begitu lagi. bangsa kita punya ibu kartini. kita sebut beliau putri sejati. harum namanya. dan ini bukan konsep biologis biarkan pun disimpulkan sebagai ibu.
kemudian dalam artikel ini dituliskan bahwa ibu kita kartini adalah konsep perilaku. dan kalau kita mengidealkan putri sejati, maka perempuan bagi orang indonesia, haruslah orang “gerakan”, “pemikir”, “aktivis”, yang selalu sibuk bukan mempercantik diri dengan sanggul sebesar tampah dan kebaya agak ketat biar tampak “aduhai”, melainkan sibuk dengan usaha pembebasan “kaumnya” atau lebih luas “bangsanya” dari banyak jerat : kemiskinan, kebodohan, keterpinggiran politik, dominasi budaya, termasuk jerat yang tercermin dalam agama kita, atau “perilaku keagamaan” di dalam masyarakat kita.
-----------------------------------------------------------------
Bisnis Online Murah & Mudah
Cepat Mendatangkan Duit Berlimpah
Dapatkan Info Lengkapnya dBC Network
Sangat cocok utk Semua Kalangan
www.dbc-network.com
-----------------------------------------------------------------
Kliping Koran : Orang-Orang Media
Posted by
share kliping
/
Labels:
artikel,
kliping,
kliping koran,
orang media,
sosial budaya
/
Comments: (0)
kode kliping : E015
jenis kliping : artikel kliping sosial budaya
judul : orang-orang media
penulis : mohammad sobary
sumber : kompas
tanggal terbit : 23 september 2007
ringkasan isi kliping :
artikel ini memaparkan tentang keberadaan media yang cukup penting dalam kehidupan berbangsa. dipaparkan dalam artikel ini bahwa media itu aset bangsa. bukan hanya milik orang-orang media. media bisa mencapai tatap kebebasan seperti saat ini karena perjuangan penuh dedikasi dan pengorbanan banyak pihak. tapi sekarang, orang media melupakan sejarah ini. media seolah hanya milik sendiri. sering pongah, seolah media sebuah dunia lain, mandiri dan mutlak merdeka dari campur tangan pihak lain. seolah orang-orang media makhluk tuhan dari ras yang lain sama sekalii dari mereka yang bukan orang-orang media.
kemudian dituliskan dalam artikel ini bahwa harus dilihat secara jernih bahwa media banyak jenisnya. ada yang menjaga kredibilitas begitu rupa. kita angkat topi kepada mereka dan layak untuk dihormati. tapi tidak semua media yang punya kredibilitas mampu mempertahankannya. alih generasi, pergantian zaman dan pergantian orientasi jurnalistik bisa media tak lagi terlalu terhormat dimata publik. apalagi media yang hadir semata untuk mengintip peluang bisnis. didalam media jenis ini, orang-orangnya tak tampak memelihara kredibilitas, tak menjaga idealisme, dan juga tak merasa penting memelihara sikap kritis.
-----------------------------------------------------------------
Bisnis Online Murah & Mudah
Cepat Mendatangkan Duit Berlimpah
Dapatkan Info Lengkapnya dBC Network
Sangat cocok utk Semua Kalangan
www.dbc-network.com
-----------------------------------------------------------------
Kliping Koran : Pola Elektoral Dalam Pilkada
Posted by
share kliping
on Tuesday, September 20, 2011
/
Labels:
artikel,
dbc network,
kliping,
kliping koran,
kliping tentang,
partai politik,
pilkada
/
Comments: (0)
kode kliping : E014
jenis kliping : artikel kliping sosial politik
judul : pola elektoral dalam pilkada
penulis : irman g lanti
sumber : kompas
tanggal terbit : 7 juli 2005
ringkasan isi kliping :
artikel ini memaparkan tentang pola afinitas politik aliran tidak mengemuka. yang terlihat dalam dua hal. pertama, identifikasi partai politik pendukung calon yang tersamar di hampir semua kasus. partai politik hanya digunakan sebagai sarana kandidasi. terpetik adanya suatu pembelajaran dari pemilu, dimana mesin-mesin partai politik tidak ampuh. yang terjadi adalah pertarungan di antara individu-individu pasangan calon dan bukan antar calon yang dimajukan oleh partai-partai politik. kedua, hilangnya pola politik aliran dalam pilkada, terpantau dari koalisi antar partai pendukung kandidat. koalisi hanya didasarkan pada kepentingan pemenuhan syarat kuantitatif. yang terjadi kemudian adalah munculnya koalisi antar partai-partai yang pada perpolitikan tingkat nasional justru berseteru.
-----------------------------------------------------------------
Bisnis Untuk Anak Muda
Dapatkan uang saku jutaan / bln
Jadilah Anak Muda yang Kaya
Gabung Sekarang di www.dbc-network.com
-----------------------------------------------------------------
kemudian dituliskan dalam dalam artikel ini bahwa yang tampak hilang dari beberapa pilkada yang telah dilangsungkan adalah pola mesianik. tidak ada calon yang dipandang oleh masyarakat sebagai “ratu adil”. fenomena ini pun terpantau dari rendahnya voting turn-out dalam beberapa pilkada yang telah berlangsung. kelesuan publik ini mengindikasikan rendahnya pengharapan elektorat terhadap kemampuan para pejabat publik di tingkat daerah dalam upaya pemenuhan kebutuhan rakyat. massa pemilih cenderung memilih siapa yang mereka kenali walaupun hanya sebatas nama.
Kliping Koran : Pilkada dan Fenomena Mobokrasi
Posted by
share kliping
/
Labels:
artikel,
dbc network,
demokrasi,
kliping,
kliping koran,
kliping tentang,
mobokrasi,
pilkada,
sosial politik
/
Comments: (0)
kode kliping : E013
jenis kliping : artikel kliping sosial politik
judul : pilkada dan fenomena mobokrasi
penulis : triyono lukmantoro
sumber : kompas
tanggal terbit : 28 juli 2005
ringkasan isi kliping :
artikel ini memaparkan tentang fenemone faktual yang berkembang dalam pemilihan kepala daerah, dimana kandidat yang kalah berkompetisi dalam pilkada menggunakan siasat mobokrasi, yaitu metode pengerahan massa secara kolosal untuk memamerkan kekuatannya. konsep mobokrasi telah diterima sebagai wacana ilmiah dalam ilmu-ilmu sosial, seperti halnya konsep demokrasi, aristokrasi, dan plutokrasi. memang, mobokrasi memiliki makna peyoratif (buruk). kalau demokrasi diartikan sebagai kekuasaan yang sepenuhnya dipegang rakyat, maka mobokrasi adalah kekuasaan yang dikendalikan mob. secara leksikal mob berarti sebuah kerumunan orang, terutama yang memungkinkan lahirnya kekerasan atau yang menyebabkan persoalan.
-----------------------------------------------------------------
Bisnis Untuk Anak Muda
Dapatkan uang saku jutaan / bln
Jadilah Anak Muda yang Kaya
Gabung Sekarang di www.dbc-network.com
-----------------------------------------------------------------
kemudian dituliskan dalam artikel ini bahwa jika ditelusuri secara historis, pengerahan massa merupakan hal yang identik dengan proses perpolitikan yang berlangsung di indonesia. keberadaan massa dengan jumlah yang melimpah dianggap sebagai parameter dukungan terhadap kekuatan politik tertentu, baik elit maupun partai. tan malaka merumuskan kekuatan itu sebagai aksi massa. namun, aksi massa itu justru merupakan hal yang negatif ketika lembaga-lembaga formal demokrasi telah tersedia. dan mobokrasi bukanlah jawaban yang tepat untuk menambal kekkurangan dalam demokrasi.
Kliping Koran : Pilkada, Gagal atau Berhasil ?
Posted by
share kliping
/
Labels:
artikel,
dbc network,
demokrasi,
kliping,
kliping koran,
kliping tentang,
pilkada
/
Comments: (0)
kode kliping : E012
jenis kliping : artikel kliping sosial politik
judul : pilkada, gagal atau berhasil ?
penulis : muhammad qodari
sumber : kompas
tanggal terbit : 1 agustus 2005
ringkasan isi kliping :
artikel ini memaparkan bahwa saat ini ada dua kelompok besar dalam menilai piilkada, dalam hubungan dengan penguatan demokrasi. kelompok pertama, disebut kelompok “optimis”, cenderung yakin dan puas dengan pelaksanaan pilkada di berbagai daerah. kelompok kedua, kelompok “pesimis”, menilai pilkada telah gagal memperkuat demokrasi. dipaparkan dalam artikel ini, bahwa menurut penulis masih terlalu dini menjatuhkan penilaian final apakah pilkada gagal atau berhasil. ada dua alasan mengapa vonis akhir belum layak dijatuhkan. pertama, pilkada yang diselenggarakan baru 25 persen dari total pilkada yang akan diselenggarakan sampai lima tahun kedepan. kedua, masih terbuka ruang lebar untuk memperbaiki kekurangan sejauh ada kemauan politik.
kemudian dituliskan dalam artikel ini bahwa berangkat dari perspektif itu, dapat dikembangkan kelompok pendapat ketiga, sebut kelompok “kritis-konstruktif” dalam menilai pilkada. kelompok ini masih percaya, masih banyak kelemahan dalam proses persiapan dan penyelenggaraan piilkada, tetapi kelemahan itu tidak harus berakhir dengan kesimpulan bahwa pilkada tidak layak diteruskan. pilkada harus diteruskan karena tidak ada alternatif yang lebih baik. pilkada dipilih untuk mengganti mekanisme lama. pilkada pertama-tama lebih unggul karena dengan pemilihan langsung, kedaulatan tertinggi dikembalikan kepada rakyat. nilai demokrasi langsung lebih tinggi daripada demokrasi perwakilan pada mekanisme lama.






